Jumat, 30 November 2012

pola agroforestry


LAPORAN LENGKAP
PRAKTIKUM AGROFRESTRY





Oleh :
ISRA
D1B5 09 086
                       



JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
                                                                                                                                                                    I.      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam Bahasa Indonesia, kata Agroforestry dikenal dengan istilah wanatani atau agroforestri yang arti sederhananya adalah menanam pepohonan di lahan pertanian, agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.
Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.
Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak. Penciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai Agroforest.
Penanaman berbagai macam pohon dengan atau tanpa tanaman setahun (semusim) pada lahan yang sama sudah sejak lama dilakukan petani di Indonesia. Contoh ini dapat dilihat dengan mudah pada lahan pekarangan di sekitar tempat tinggal petani. Praktek ini semakin meluas belakangan ini khususnya di daerah pinggiran hutan dikarenakan ketersediaan lahan yang semakin terbatas.
Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain.
Agroforestri muncul sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian atau kehutanan. Ilmu Agroforestry berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dikembangkan petani di daerah beriklim tropis maupun beriklim subtropis sejak berabad-abad yang lalu.
Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi, yang memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan, Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Sistem ini telah dipraktekkan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad,misalnya sistem ladang berpindah, kebun campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan. Contoh lain yang umum dijumpai di Jawa adalah mosaik-mosaik padat dari hamparan persawahan dan tegalan produktif yang diselang-selingi oleh rerumpunan pohon. Sebagian dari rerumpunan pohon tersebut mempunyai struktur yang mendekati hutan alam dengan beraneka-ragam spesies tanaman.
Berdasarkan motivasi yang dimiliki petani, terdapat dua sistem terbentuknya agroforestri di lapangan yaitu sistem bercocok tanam "tradisional" dan sistem "modern". Sistem "tradisional" adalah sistem yang "dikembangkan dan diuji" sendiri oleh petani, sesuai dengan keadaan alam dan kebutuhan atau permintaan pasar, serta sejalan dengan perkembangan pengalamannya selama bertahun-tahun dari satu generasi ke generasi.
Dari latar belakang di atas  maka dilakukanlah  praktikum mengenai  Agroforestry yang di lakukan atau yang di gunakan oleh petani yang bertani  disekitar hutan Nanga-nanga.



B.     Tujuan
            Tujuan dari pelaksanaan Praktikum Agroforestry ini yaitu :
1.      Untuk mengetahui Sistem Agroforestry yang di gunakan oleh petani sekitar hutan Nanga-nanga.
2.      Untuk mengetahui apakah system agroforestry yang digunakan oleh masyarakat sekitar hutan nanga-nanga berjalan dengan baik atau tidak.

C.    Manfaat
            Manfaat yang ingin dicapai dari pelaksanaan praktikum ini yaitu :
1.      Agar kita dapat mengetahui system agroforestry yang digunakan oleh mesyarakat dalam hal ini petani sekitar hutan nanga-nanga.
2.      Agar kita dapat mengtahui apakah system agroforestri yang digunakan oleh masyarakat  atau petani  sekitar hutan nanga-nanga berjalan baik atau tidak.


                                                                                                                                           II.      TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian Agroforestry
Agroforestri merupakan suatu alternative perladangan berpindah, sebagai suatu pendekatan sistematis untuk pengintegrasiaan kembali unsur-unsur dasarnya ke dalam bentuk penggunaan lahan yang produktif, lestari, yang secara politis berada dibawah tekanan penduduk, persaingan penggunaan lahan,tenaga kerja dan input-input produksi lainnya. (Abstrak Hutan,1989)
Dalam Bahasa Indonesia, kata agroforestry dikenal dengan istilah wanatani atauagroforestri yang arti sederhananya adalah menanam pepohonan di lahan pertanian. Sistem agroforestri merupakan kombinasi antara aneka jenis pepohonan dengan tanaman semusim dengan/tanpa ternak atau hewan. Agroforest merupakan salah satu model pertanian berkelanjutan yang tepatguna,sesuai dengan keadaan petani. Pengembangan pertanian komersial khususnya tanaman semusim, menuntut terjadinya perubahan sistem produksi secara total menjadi sistem monokultur dengan masukan energi, modal, dan tenaga kerja dari luar yang relatif besar yang tidak sesuai untuk kondisi petani. Selain itu, percobaan-percobaan yang dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman komersial selalu dilaksanakan dalam kondisi standar yang berbeda dari keadaan yang lazim dihadapi petani. Tidak mengherankan bila banyakhasil percobaan mengalami kegagalan pada tingkat petani. (http://www.scribd.com)
Lundgren dan Raintree mengemukakan bahwa  Agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-teknologi penggunaan lahan,  yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dll.) dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang dilakukan pada waktu yang bersamaan atau bergiliran sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada. ( http://www.bpdas-pemalijratun.net)
Menurut King dabn Chandler Agroforestry merupakan suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan produksi tanamaan (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan tanaman hutan dan/atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yanag sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat". (http://www.lablink.or.id/Env/Agroforestri/agf-def.htm).
Nair berpendapat bahwa Agroforestri adalah suatu nama kolektif untuk sistem-sistem penggunaan lahan teknologi, dimana tanaman keras berkayu (pohon-pohonan, perdu, jenis-jenis palm, bambu, dsb) ditanam bersamaan dengan tanaman pertaian, dan/atau hewan, dengan suatu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau urutan temporal, dan didalamnya terdapat interaksi-interaksi ekologi dan ekonomi diantara berbagai komponen yang bersangkutan. (http://www.lablink.or.id/Env/Agroforestri/agf-def.htm)
Agroforestry merupakan kegiatan penggunaan lahan yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan hasil total secara lestari, dengan cara mengkombinasikan tanaman berkayu (pohon) dengan tanaman pangan atau tanaman pakan ternak pada sebidang lahan yang sama, baik secara bersamaan atau secara bergantian, dengan menggunakan praktek-praktek pola pengelolaan yang sesuai dengan kondisi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya setempat. (http://repository.usu.ac.id)
B.     Jenis-Jenis Agroforestry
Beberapa model Agroforestri yang dapat dikembangkan adalah "Agrisilvopastur ", yaitu penggunaan lahan secara sadar dan dengan pertimbangan masak untuk memproduksi sekaligus hasil-hasil pertanian dan kehutanan. "Sylvopastoral system ", yaitu suatu sistem pengelolaan lahan hutan untuk menghasilkan kayu dan memelihara ternak. "Agrosylvo-pastoral system ", yaitu suatu sistem pengelolaan lahan hutan untuk memproduksi hasil pertanian dan kehutanan secara bersamaan, dan sekaligus untuk memelihara hewan ternak. "Multipurpose forest ", yaitu sistem pengelolaan dan penanaman berbagai jenis kayu, yang tidak hanya untuk hasil kayunya, akan tetapi juga daun-daunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan manusia, ataupun pakan ternak (http://webmaster@lablink.or.id).
Agrisilvikultur adalah sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan yang berdaur panjang (tree crops) dan tanaman non-kayu dari jenis tanaman semusim (annual crops). Dalam agrisilvikultur, ditanam pohon serbaguna (lihat lebih detil pada bagian multipurpose trees) atau pohon dalam rangka fungsi lindung pada lahanlahan pertanian (Nair, 1989; dan Young, 1989).

C.    Manfaat Agroforestry
Ø  Sosial Budaya
Salah satu sasaran utama dari setiap usaha pertanian termasuk agroforestri adalah produksi yang berkelanjutan (sustainable) yang dicirikan oleh stabilitas produksi dalam jangka panjang. Beberapa indikator terselenggaranya system pertanian yang berkelanjutan adalah (a) dapat dipertahankannya sumber daya alam sebagai penunjang produksi tanaman dalam jangka panjang, (b) penggunaan tenaga kerja yang cukup rendah, (c) tidak adanya kelaparan tanah, (d) tetap terjaganya kondisi lingkungan tanah dan air, (e) rendahnya emisi gas rumah kaca serta (f) terjaganya keanekaragaman hayati.
Tidak adanya kelaparan tanah pada sistem tersebut, dapat diartikan sebagai cukupnya kandungan bahan organik tanah, terpeliharanya kesetimbangan unsur hara, terpeliharanya struktur dan kondisi biologi tanah serta adanya perlindungan tanaman terhadap gulma, hama.  Namun demikian, upaya ini tidak bisa terlepas dari tingkatan yang lebih tinggi (meso dan makro). Kebijakan nasional, regional dan internasional melalui pemberlakuan berbagai peraturan dan undang-undang (hukum) dapat mendorong pengembangan atau justru menghancurkan praktek - praktek agroforestri. (http://mawarhitamsempurna.blogspot.com).



Ø  Ekologi
Pada awalnya, Young (1991) mengembangkan model SCUAF (Soil Changes Under Agroforestry). Model ini membantu untuk memberikan pilihan pengelolaan tanah di dalam sistem agroforestri, dan dibandingkan dengan bentuk penutupan lainnya seperti hutan monokultur atau tanaman semusim monokultur (Young, 1997). Model ini menperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tanah, siklus karbon atau bahan organik tanah dan siklus unsur hara tanah (N,P,K). Model ini meniru dinamika bahan organik tanah, keseimbangan nitrogen dan pospor tanah, erosi tanah dan pertumbuhan tanaman, dengan selang waktu satu tahun. Oleh karena itu model ini menduga jangka menengah dan jangka panjang perubahan tanah dari suatu system agroforestri yang spesifik. Air tanah tidak dimodelkan dalam SCUAF.
PARCH mensimulasi pertumbuhan, perkembangan dan hasil tanaman biji-bijian C4 tropis, dan memperhitungkan secara khusus pengaruh radiasi matahari, ketersediaan air tanah, kelembaban atmosphir dan temperatur di kondisi lahan kering. HyPAR mensimulasikan siklus N secara harian, menghitung kompetisi air dan nitrogen di mana disimulasikan pergerakan air dan nitrogen secara vertikal, status air tanah dan nitrogen, pertumbuhan perakaran pohon dan tanaman semusim, hambatan pergerakan air dan nitrogen hingga 15 lapisan tanah (Mobbs, 1997). Model ini akrab dengan pengguna, ditunjang dengan data base yang mendiskripsikan banyak tipe-tipe pohon, tanaman semusim dan tanah, dan mampu mensimulasikan perbedaan pola akar dalam sistem agroforestri, tetapi didistribusikan sebagai program yang dikompilasi sehingga tidak mudah untuk dimodifikasi struktur modelnya atau untuk memperoleh tipe output yang baru (Rowe, 1999).
Model WaNuLCAS (Water Nutrient and Light Captured in Agroforestry Systems) meniru kesetimbangan air, C, N, P dan bahan organik tanah dalam system agroforestri secara harian (Van Noordwijk, 1999). Model ini disusun dalam lingkungan model STELLA IV(Chichakly, 1996). STELLA adalah perangkat lunak lingkungan pemodelan di mana dinamika model disajikan secara visual dan sederhana. Model WaNuLCAS mensimulasi kondisi empat lapisan tanah dan empat zone, sehingga memberikan 16 spatial kompartemen yang nyata. Model WaNuLCAS juga mempertajam proses-proses interaksi di bawah tanah. Model ini dapat digunakan untuk memahami pilihan pengelolaan masa transisi agroforestri.
Ø  Manfaat Ekonomi
            Sistim agroforestry pada suatu lahan akan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi petani, masyarakat dan daerah setempat. Manfaat tersebut berupa:
a.       Peningkatan dan penyediaan hasil berupa kayu pertukangan, kayu bakar, pangan, pakan ternak dan pupuk hijau.
b.       Mengurangi timbulnya kegagalan panen secara total, yang sering terjadi pada sistim pertanian monokultur
c.       Memantapkan dan meningkatkan pendapatan petani karena adanya peningkatan dan jaminan kelestarian produksi.
d.       Perbaikan standar hidup petani karena ada pekerjaan yang tetap dan pendapatan yang lebih tinggi.
e.        Perbaikan nilai gizi dan tingkat kesehatan petani dan adanya peningkatan jumlah dan keaneka-ragaman hasil pangan yang diperoleh.
f.       Perbaikan sikap masyarakat dalam cara bertani : melalui tempat penggunaan lahan yang tetap.  (http://hijauqoe.wordpress.com).



                                                                                                                                    III.      METODE PRAKTIKUM
A.    Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, 27 November 2011 pukul 08.00 WITA sampai selesai dan bertempat disekitar kawasan hutan lindung Papalia (Nanga-nanga) Kelurahan Anduonohu Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

B.     Bahan dan Alat
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kuisioner yang memuat pertanyaan terkait objek praktikum yang akan diamati, alat tulis menulis dan kamera sebagai dokumentasi.

C.    Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.        Membuat pertanyaan sebagai bahan wawancara dilapangan.
2.        Kemudian Melakukan wawancara terhadap masyarakat yang terlibat dalam keanggotaan Kelompok Tani Pengelola Hutan (KTPH) terkait dengan penerapan model agroforestri yang mereka gunakan (Aspek Biofisik Pola Agroforestri yang diterapkan, Aplikasi Ekonomi Agroforestri, dan Diagnosa Sistem Agroforestri). Wawancara dilakukan dengan teknik berkelompok.
3.        Membuat dokumentasi mengenai proses wawancara.
4.        Menuliskan hasil wawancara dalam bentuk laporan.
                                                                                                                           IV.      GAMBARAN UMUM LOKASI
A.    Letak dan Luas
Secara geografis kawasan hutan lindung Papalia (Nanga-nanga) terletak di antara 4’4’44˚ LS dan 122’1520˚ BT. Kawasan hutan lindung Papalia (Nanga-nanga) terletak diwilayah administrasi yaitu pemerintahan Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan, Kecamatan Poasia dan Kecamatan Baruga Kota Kendari dengan luas kawasan 2515 ha, lingkar gelang kawasan hutan 58 Km, tata letak rekontruksi batas dilaksanakan oleh BIPHUT SULTRA dengan panjang kawasan hutan 45,0 Km. Berdasarkan surat  keputusan No. 639/Kpts/um/9/1982 tertanggal 1 September 1982, dan dilakukan perubahan melalui Kepmen Kehutanan No. 426/Kpts-II/97 tertanggal 30 Juli 1997 oleh Menteri Kehutanan tentang penetapan kawasan gunung Papalia/Nanga-Nanga sebagai kawasan lindung dan kawasan produksi tetap. Sedangkan batas-batas kawasan hutan lindung Papalia (Nanga-nanga)  adalah disebalah utara berbatasan dengan Teluk Kendari, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Baruga, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Abeli, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kambu.

B.     Keadaan Iklim dan Topografi
Kawasan hutan lindung Papalia (Nanga-nanga) terletak pada ketinggian 20-450 mdpl diatas permukaan laut dengan pH tanah berkisar antara 4,5 s/d 5,7 dengan katagori masam sampai agak masam dengan keadaan topografi landai hingga sangat curam (bergunung). Kelerengan berkisar antara 8 % sampai diatas 40 %.
Berdasarkan data curah hujan 10 tahun (1998-2007) diperoleh dari stasiun klimatologi bandara Wolter Monginsidi, kawasan ini memiliki tipe iklim C3, dengan curah hujan tahunan berkisar 1113 mm sampai 2289 mm. Pada umumnya beriklim tropis dengan suhu rata-rata 25ºC – 27ºC, dengan curah hujan rata – rata 2240,9 mm. Kawasan hutan lindung Papalia memiliki dua musim yaitu musim Penghujan yang berlangsung pada bulan Oktober hingga bulan Maret dan Musim Kemarau yang berlangsung pada bulan Juli hingga September. Sedangkan Untuk Bulan April, Mei dan Juni oleh masyarakat setempat dikenal sebagai masa pancaroba.

C.    Keadaan Sosial Budaya
Keadaan Sosial Budaya  Penduduk atau masyarakat yang berada  di daerah sekitaran Kawasan hutan lindung Papalia (Nanga-nanga) rata-rata bermata pencarian sebagai petani baik tanaman musiman, holtikultura, kehutanan ,palawija dan beternak ikan maupun hewan.



                                                                                                                                  V.      HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Responden Pertama
Pola                                 : Gabungan antara tanaman kehutanan, pertanian, serta             peternakan dan perikanan (Agrosilvopasturafishery)
Nama Responden             : Pak Amrin
Umur                                : 39 Tahun
Luas Lahan                      : 70 are atau 0,7 ha

Tabel 1. Hasil pengamatan tentang tanaman Kehutanan dan Pertanian
Jenis tanaman
Pengeluaran/3bln
(Rp)
Penerimaan /3bln
(Rp)
Pendapatan/3bln
(Rp)
Keterangan
Jati
-
7.500.000
7.500.000
Tidak dilakukan perawatan
Coklat
-
-
-
Tumbuh liar
Pisang
-
-
-
Bibit tidak  dibelidan belum dipanen
Cabe rawit
-
20.000
20.000
Bibit tidak dibeli
Tomat
25.000
720.000
695.000
Pengeluaran untuk pupuk kandang
Mangga
-
500.000
500.000
Bibit tidak dibeli dan Kosumsi sendiri
Kelapa
-
24.000
24.000
Bibit tidak dibeli dan hasilnya dikonsumsi
Nangka
-
200.000
200.000
Bibit tidak dibeli dan hasilnya dikonsumsi
Lanjutan Tabel 1.
Sirsak
-
100.000
100.000
Bibitnya tidak dibeli dan hasilnya dikonsumsi
Ubi-ubian
-
500.000
500.000
Bibitnya tidak dibeli dan hasilnya dikonsumsi
Langsat
-
25.000
25.000
Bibitnya tidak dibeli dan hasilnya dikonsumsi
Jumlah
25000
9.589.000
9.474.000

Sumber : Pengolahan data primer 2011

Tabel 2. Hasil pengamatan pada perternakan
Jenis Ternak
Pengeluaran (Rp)
Penerimaan
(Rp)
Pendapatan
(Rp)
Keterangan
Kambing
240.000
-
-240.000
Menerima bantuan dari pemerintah
Ayam
275.000
500.000
225.000
Pengeluaran makanan (dedak)
Jumlah
515.000
500.000
-15.000

Sumber : Pengolahan data primer 2011

Tabel 3. Hasil pengamatan pada perikanan
Jenis Ikan
Pengeluaran (Rp)
Penerimaan (Rp)
Pendapatan (Rp)
Keterangan
Ikan Mas
500.000
-
-500.000
Dalam pengembangan
Ikan Mujair
200.000
-
-200.000
Dalam pengembangan
Lele Jumbo
150.000
-
-150.000
Dalam pengembangan
Jumlah
850.000
-
- 850.000

Sumber : Pengolahan data primer 2011

Responden Kedua
Pola                             : Gabungan antara tanaman kehutanan dan pertanian                                                (Agrosilvikulture)
Nama Responden        : Pak Rustam
Umur                           : 52 Tahun
Luas Lahan                 : 1 Ha

Tabel 1. Hasil pengamatan tanaman kehutanan
Jenis Tanaman
Pengelua ran/3bln
(Rp)
Penerimaan/3bln
(Rp)
Pendapatan/3bln
(Rp)
Keterangan

Jabon
-
-
-
Tumbuh liar
Jati
-
-
-
Tumbuh liar
Jati Putih
-
-
-
Tumbuh liar
Jumlah
-
-
-

Sumber : Pengambilan data primer 2011

Tabel 2. Hasil pengamatan tanaman pertanian
Jenis Tanaman
Pengeluaran/3bln
(Rp)
Penerimaan/3bln
(Rp)
Pendapatan/3bln
(Rp)
Keterangan
Nangka
-
50.000
50.000
Hasil panen dijual
Ubi-ubian
-
90.000
90.000
Hasil panen dijual
Kacang panjang
150.000
75.000
-75.000
Hasil panen dijual
Terong
-
-
-
Belum menghasilkan
Jumlah
150.000
215.000
65.000

Sumber : Pengambilan data primer 2011





B.     Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan disekitar hutan  lindung Papalia (Nanga-nanga) dengan mengambil dua contoh responden petani yaitu petani yang menggunakan pola Agrosilvopasturafishery dan Agrosilvikultur.
Responden pertama menggunakan pola Agrosilvofishery denagan luas lahan 70 are atau 0,7 ha, dalam artian agrosilvofishery adalah penggabungan jenis tanaman pertanian dan kehutanan dan peternakan beserta perikanannya yang dilakukan dalam satu areal lahan.
Tanaman kehutanan yang ditanam dalam satu areal tersebut diantaranya jati dimana pendapatan Rp.7.500.000,-/3bln  tanpa melakukan perawatan tanaman, sedangkan tanaman pertaniannya diantaranya Cabe (Rp.20.000,-/3bln) menggunakan bibit sendiri, Tomat (Rp.695.000,-/3bln) biaya yang dikeluarkan hanya pembelian pupuk kandang, Mangga (Rp.500.000,-/3bln) bibit tidak dibeli dan dikomsumsi sendiri, Kelapa (Rp.24.000,-/3bln) bibit tidak dibeli dan hasilnya dikomsumsi sendiri, Nangka (Rp.200.000,-/3bln) bibit tidak dibeli dan hasilnya dikomsumsi sendiri, Sirsak (Rp.100.000,-/3bln) bitnya tidak di beli dan hasilnya dikomsumsi sendiri, Ubi-ubian (Rp.500.000,-/3bln) bibit tidak dibeli dan hasilnya dikomsumsi sendiri, Langsat (RP.25.000,-/3bln) bibit tidak dibeli dan hasilnya di komsumsi sendiri dari jenis tanam pertanian dan kehutanan yang ditanam mendapatkan keuntungan dengan penerimaan keseluruhan (Rp.9.474.000,-/3bln).
Hewan ternak yang di pelihara adalah kambing dari bantuan pemerintah dengan pengeluaran  Rp.24.000,-  tetapi peneriamaan/3bln belum dihasilkan,  Ayam (Rp.225.000,-/3bln) dimana pengeluaran yang dikeluarkan untuk membeli makanan ternak, dengan total penerimaan dari hewan ternak belum ada btetapi pengeluaran dengan sebesar Rp.15.000,-.
Pada jenis perikanan yang dihasilkan adalah Ikan mas dengen pengeluaran Rp.500.000,- untuk pengembangan, ikan Mujair Rp.200.000,- untuk pengembangan, ikan Lele Dumbo Rp.150.000,- pengeluaran untuk pengembangan, penerimaan/3bln belum ada karena 3bln untuk jenis ternak belum ada penghasilan atau pendapatan terlihat sangat jelas besar total pengeluaran sebesar Rp.850.000,-/3bln, jadi besar total pendapatan yang diterima dari pola Agrosilvofishery sebesar Rp.8.609.000.
Responden kedua membuka lahan dengan pola Agrosilvikultur, menurut (Nair, 1989 dan Young, 1989) Agrisilvikultur adalah sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan yang berdaur panjang (tree crops) dan tanaman non-kayu dari jenis tanaman semusim (annual crops). Dalam agrisilvikultur, ditanam pohon serbaguna (lihat lebih detil pada bagian multipurpose trees) atau pohon dalam rangka fungsi lindung pada lahan-lahan pertanian.
Jenis tanaman kehutanan yang ada adalah Jabon, Jati, Jati putih,  tanaman ini tidak ditanam oleh petani tersebut tetapi merupakan tanaman liar, penerimaan untuk jenis tanaman kehutanan tidak ada karena belum menghasilkan.
Untuk jenis tanaman pertanian yang ditanam adalah Ubi (Rp.50.000/3bln) dengan hasil panen dijual, Ubi-ubian (Rp.90.000/3bln) hasil panen dijual, kacang panjang  (Rp.-75.000/3bln) hasil dijual tetapi pengeluaran lebih banyak dalam 3bln dari pada penerimaan, Terong belum menghasilkan untuk per 3 bulan, jadi untuk jenis tanaman pertanian total pendapatan sebesar Rp.65.000/3bln


                                                                                                                        VI.      KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
            Kesimpulan yang dapat ditarik dari pelaksanaan praktikum ini adalah :
1)      Jenis Agroforestry yang digunakan oleh petani sekitar hutan lindung nanga-nanga adalah Agrosilvopasturafishery dan Agrosilvikultur.
2)      Dari hasil pengamatan langsung lapangan, Jenis Agrosilvopasturafishery lebih banyak pendapatan yang diterima dengan total pendapatan sebesar  Rp.8.609.000,-  sedangkan Agrosilvikultur total pendapatan sebesar Rp.65.000.

B.     Saran
            Saran yang dapat saya sampaikan dari pelaksanaan praktikum ini yaitu agar praktikum selanjutnya lebih ditingkatkan lagi dan pengambilan responden bisa lebih agar kita lebih bisa membedakannya antar pola agro yang digunakan para petani.





           



DAFTAR PUSTAKA
Abstrak Hutan dan kehutanan Vol. 1, no  1, 1989. Agroforestry. Proyek Pembangunan perpustakaan Manggala Wanabakti.Jakarta.
            diakses tgl 29 Nov 2011
http://mawarhitamsempurna.blogspot.com. diakses tgl 29 Nov 2011
http://webmaster@lablink.or.id. diakses tgl 29 Nov 2011
            diakses tgl 29 Nov 2011
            diakses tgl 29 Nov 2011        
Nair PKR. 1989. An introduction to agroforestry. Kluwer Academic Publihers in cooperation with ICRAF. Netherlands.
Rowe E. 1999. The safety-net role of tree roots in hedgerow intercropping systems. Ph.D.Thesis. Department of Biological Sciences, Wye College, University of London.
Van Noordwijk M dan B Lusiana. 1999. WaNuLCAS: a model of water, nutrient and light capture in agroforestry systems. Agroforestry Systems 43: 217-242.
Young A and P Muraya. 1991. SCUAF: soil changes under agroforestry. Agric. Sys. Info.Technol. Newsletter 3: 20-23.
Young A. 1997. Agroforestry for soil management (2nd edition). CAB International,Wallingford, UK.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar